Aku sempat
berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil. TIDAK. Ternyata aku salah. Smua sudah
menjadi takdirku dan keluargaku. Nasib kami memang sedang terpuruk atau sedang
tidak beruntung. Semuanya gara-gara manusia-manusia serakah itu.
HARTA. Ini
memang hanya sebuah kata,
tapi begitu banyak masalah yang ditimbulkan olehnya. Berbicara masalah harta, ini adalah kisah nasib keluargaku yang sebenarnya. Indonesia benar-benar hancur, karena manusia-manusianya yang buta. Buta karena harta. Korupsi di mana-mana. Benar-benar memprihatinkan. Aku bahkan bisa meneteskan air mata karena menjadi bagian dari masalah-masalah ini. Ya, kami ini korban kepicikan orang-orang rakus itu.
tapi begitu banyak masalah yang ditimbulkan olehnya. Berbicara masalah harta, ini adalah kisah nasib keluargaku yang sebenarnya. Indonesia benar-benar hancur, karena manusia-manusianya yang buta. Buta karena harta. Korupsi di mana-mana. Benar-benar memprihatinkan. Aku bahkan bisa meneteskan air mata karena menjadi bagian dari masalah-masalah ini. Ya, kami ini korban kepicikan orang-orang rakus itu.
Niatnya kami
hanya ingin menabung di sebuah bank. Tabungan ini kami mulai dari nol.
Bertahun-tahun kami menaruh kepercayaan pada bank itu. Sedikit demi sedikit,
receh demi receh kami kumpulkan. Kami memiliki rencana yang besar dengan uang
itu. Begitu banyak harapan-harapan yang kami inginkan dari uang itu. Setiap
penghasilan yang didapat ayahku selalu disisakan untuk ditabung. Inilah sosok
ayahku yang mengajarkan pada keluarganya untuk selalu menabung seberapapun
besarnya entah sedikit atau banyak. Ayahku sangat bekerja keras untuk menafkahi
keluargaku.
Dan hingga saat
ini aku menjadi calon mahasiswi. Tentu saja aku membutuhkan uang yang cukup
banyak untuk mendaftar di Perguruan Tinggi. Untung saja sejak awal aku sudah
menabung untuk persiapan kuliahku. Hari ini adalah hari dimana aku harus
menunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku bisa membahagiakan mereka. Aku
mengikuti ujian SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
Belajar dan berdo’a telah kulakukan semampuku. Dua hari aku mengikuti ujian
SNMPTN. Lega sekali rasanya. Tinggal menunggu pengumuman, semoga semuanya sesuai
harapan.
Sepulang dari
ujian aku merasa senang. Aku ingin segera pulang dan beristirahat. Dan
setibanya di rumah ibu memanggilku. Sepertinya ingin membicarakan hal yang
penting. Terus terang aku sedikit ketakutan dan cemas. Aku duduk di ruang
tengah. Sembari membereskan ruangan itu ibuku tersenyum tenang dan mulai mengeluarkan kata-kata dari
mulutnya.
“Kimi sudah
tahu?”
“Tahu apa bu?”
Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud ucapan ibuku itu. Aku mencoba tetap
bersikap biasa saja, dan memandang dalam-dalam wajah ibuku.
“Uang tabungan
kita hilang.” Airmata kesedihan yang
selama ini belum pernah kulihat dari wajah ibuku tiba-tiba menetes dan
membasahi pipinya, “semuanya”.
“Apa maksud ibu?
Bagaimana bisa? Bukankah kita menyimpannya di bank?” Aku masih bingung
mendengar ucapan ibuku. Hatiku mulai berdebar-debar seakan itu adalah pertanda
yang buruk. Ibuku pun terlihat lemas saat ini. Diambilnya nafas dalam-dalam dan
mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa? Jadi uang
kita dikorupsi bu? Astaghfirullah.” Aku terkulai lemas di depan ibuku, “Kenapa
tidak meminta ganti rugi saja? Lalu bagaimana kuliahku bu?” Aku tak kuasa
menahan tangis, sedikit demi sedikit air mataku mulai menampak dan membanjiri
kulit di pipiku.
“Sudah tidak
bisa lagi, sayang. Polisi sudah memprosesnya dan saat ini orang yang
mengkorupsi tidak memiliki apa-apa lagi untuk menukar semua uang yang
dikorupsinya.”
“Apa itu artinya
semua uang kita hilang dan tidak mungkin kembali lagi bu?” Kulihat ibuku juga
terlihat sangat kecewa dengan ini semua. Segera ibu memeluku untuk
menenangkanku.
“Tidak papa,
Kimi yang sabar ya. Kita serahkan semua pada Allah. Ini adalah ujian bagi kita.
Kalaupun uang itu masih menjadi rizki kita, pasti Allah akan menukarnya.”
Kurasakan belaian kasih sayang dari ibuku. Aku tahu ibu menunjukkan
ketegarannya. Tapi aku juga tahu, pasti ibu merasa sangat sedih. Bahkan aku
baru pertama kali melihat ibu menangis. Ibuku adalah orang yang sangat sabar.
Dia tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depanku dan anggota keluargaku
yang lain. Namun kali ini hatiku sangat sakit sekali melihat ibu menangis
sedih.
“Lalu Bu,
bagaimana dengan kuliahku?”
“Kimi tidak usah
memikirkan hal itu. Ayah pasti berusaha agar Kimi tetap bisa berkuliah. Do’a
kan ayahmu ya. Pasti ada jalan keluarnya. Ingat, Kimi tidak boleh patah
semangat. Tidak usah memikirkan hal ini, biar ayah dan ibu yang menangani.”
Aku tak tahu
perasaan apa ini. Aku sedih, kecewa, bingung, dan rasanya seperti mimpi. Pantas
saja akhir-akhir ini ayah, ibu, dan kakakku terlihat seperti sibuk mengurus
sesuatu dan terlihat sedikit depresi. Jadi karena ini masalahnya. Dan mengapa
baru hari ini ibu memberitahuku tentang masalah ini. Aku mendapat kejutan
menyedihkan setelah ujian siang tadi. Dan muncullah rasa geram dan marah dalam
hatiku. Aku mulai merasa dendam pada si pencuri uang itu.
Tidakkah
cukup bagi mereka memiliki penghasilan yang tak sedikit? Bahkan untuk kami itu
adalah harta yang benar-benar melimpah. Namun mengapa? Mereka masih belum puas
dengan apa yang mereka dapatkan. Apakah mereka itu benar-benar kekurangan
ataukah rakus? Aku pikir dua-duanya.
Penghasilan
mereka besar, harta mereka melimpah, hidup serba berkecukupan, rumah yang
mewah. Dengan sekali tunjuk saja apapun yang mereka inginkan segera datang di
depan mata. Betapa itu impian semua orang bukan? Namun sayang sekali, mereka
tidak pernah bersyukur. Mereka takabur. Sekilas pandangan mata mereka memang
terlihat kaya. Namun ternyata mereka
adalah orang yang paling miskin di dunia. Mereka miskin hati dan perasaan. Ya,
mereka memang KORUPTOR.
Apa?
Berwibawa? Berwibawa darimana? Akhlak saja tidak punya. Darimana mereka bisa
mendapatkan kewibawaan-kewibawaan itu? Apa karena mereka mengenakan pakaian
necis, dengan jas, berkalung dasi, sepatu mengkilat, dan seakan-akan mereka
adalah orang-orang yang harus dihormati. SALAH BESAR. Mereka bukanlah orang
terhormat, melainkan manusia picik yang dipandang saja tidak pantas. Mereka
berlagak dermawan, padahal uang derma mereka adalah uang orang lain. Bisa saja
mereka membanggakan hal itu. Tapi mereka sesungguhnya sangat tersiksa dengan
sikap-sikap mereka sendiri. Kasihan sekali.
Dan
malam ini pun rasanya dingin sekali. Suasana juga menjadi tidak bersahabat.
Malang sekali nasibku dan keluargaku. Hatiku seperti tercabik-cabik. Tak ada
seorangpun yang tahu masalahku ini. Tidak sahabatku, teman-temanku, dan
lainnya. Aku ingin bercerita, tapi tidak tahu kepada siapa. Aku sepertinya
belum siap menerima kenyataan ini. Apakah hidupku juga akan berubah? Semua uang
lenyap dalam sekejab.
Sebuah pesan
tiba-tiba muncul di telephone genggamku. Seseorang bernama Reza
menyapaku lewat pesan itu. Kebetulan sekali, disaat aku bingung dan ingin
mencurahkan isi hatiku. Mungkin aku bisa menceritakan semuanya pada Reza. Dia
memang orang yang sangat baik, ramah dan pendengar yang baik. Saat aku sedih,
senang, dia yang mendengarkan cerita-ceritaku itu. Sahabat-sahabatku sendiri
tidak bisa selalu seperti itu. Bahkan Reza bersedia menelponku hanya untuk
mendengarkan keluhanku. Jujur aku merasa tidak enak sekali padanya.
“Hallo, Kimi.”
Dari balik ponsel suara Reza terdengar begitu ramah dan menyenangkan.
“Oh, hai Reza.”
Dengan nada sedikit turun dari biasanya aku menjawab sapaannya. “Aku boleh
menceritakan sesuatu?”
“Tentu saja,
Kimi boleh cerita apa saja.”
“Terimakasih,
ini mengenai kuliahku. Reza tahu tidak?”
“Tidak tahu
dong, Kimi kan belum cerita.” Dengan senyum khasnya yang terdengar begitu ramah
dia menjawab,”ada apa dengan kuliah Kimi?”
“Begini…..”
Kuceritakan semuanya yang terjadi padaku dan keluargaku. Sungguh aku meneteskan
air mata lagi. Mungkin Reza tidak tahu kalau aku sedang menangis. Dan semoga
saja dia memang tidak tahu. Seusai mendengar ceritaku yang panjang lebar Reza
berusaha menghiburku.
“Kimi harus
sabar ya. Ini ujian untuk Kimi dan keluarga. Percaya, setiap masalah itu pasti
ada jalan keluarnya.”
“Iya Reza, tapi
aku benar-benar tidak bisa membayangkan
smuanya. Coba bayangkan saja. Tabungan kakakku, tabungan orangtuaku, bahkan
tabunganku untuk kuliah hilang begitu saja. Rasanya sia-sia selama ini kami
menabung.”
“Mau bagaimana
lagi. Sekarang Kimi lebih baik berdo’a, smuanya pasti ada jalan keluarnya kok.
Terus sekarang bagaimana dengan koruptornya?”
“Polisi sedang
memproses. Smoga dia menadapatkan balasan yang setimpal.”
“Oke, Kimi harus
tetap semangat kalu begitu. Jangan terlalu memikirka hal itu.” Selalu Reza lah
orang yang menyemangatiku, “Aku yakin orangtua Kimi juga sedang berusaha
mengatasi masalah ini. Ayo Senyum!!” Mendengar ucapannya aku langsung
tersenyum. Fiuh, setidaknya aku sedikit lega sudah menceritakan semua yang
mengganggu pikiranku pada hari ini.
“Bagaimana ujian
SNMPTN Kimi? Sukses kan?” tiba-tiba saja kami beralih topik. Mungkin ini akan
mengurangi pikiran-pikirnku pada msalahku.
“Lumayan. Tapi
Za, aku pesimis sekali. Soalnya benar-benar sulit. Berbeda dari tahun-tahun
sebelumnya.”
“Loh kok
pesimis? Semangat dong, yang penting Kimi sudah berusaha. Kimi harus tunjukkan
kemampuan Kimi pada orangtua Kimi loh.”
“Hehe, Iya Reza,
ini sudah semangat kok.” Aku mencoba meriangkan diriku sendiri, meyakinkan
kalau aku baik-baik saja. Dan kenyataannya senyumku tadi itu adalah sebuah
keterpaksaan. Tapi syukurlah Reza percaya, dan dia membalas senyumku dengan
senyum kecilnya. Obrolan kami pun berujung pada canda tawa. Tidak terasa banyak
waktu yang kami habiskan untuk berbincang-bincang. Meskipun tidak secara
langsung, tapi aku senang sudah berbagi cerita dengan Reza. Dan karenanya aku
benar-benar fresh kembali, seakan-akan masalahku hilang semuanya. Dia
membuatku tersenyum lepas hingga obrolan kami usai. J
****
Keesokkan
harinya dari balik pintu kamar aku tidak sengaja mendengar obrolan ayah, ibu,
dan kakakku. Seperti biasa kakakku selalu berbicara dengan nada-nada tinggi.
Dia memang tipe orang yang keras dan tegas. Namun di balik itu semua dia adalah
seseorang yang ringan tangan, penyayang dan setia kawan. Banyak orang yang
selalu meminta bantuannya ketika mereka dihadapkan pada masalah-masalah baik
yang terbilang sederhana maupun rumit. Dan tanpa pikir-pikir lagi kakakku pasti
membantu mereka. Bukan karena imbalan atau apapun itu, melainkan karena kakakku
memang peduli dengan orang lain.
“Yah, uang kita
positif tidak akan kembali lagi. Benar-benar sudah rumit masalahnya. Pak Amir
sudah menyerahkan diri pada polisi dan tidak mungkin bisa menukar uang-uang
para nasabah.” Pak Amir adalah seorang pimpinan bank sekaligus si koruptor itu.
Tak ada yang menyangka kalau dia adalah seorang koruptor. Penampilannya selalu
terlihat religious. Dia pandai berbicara dan sok baik. Benar-benar manusia
munafik.
“Mau bagaimana
lagi. Smuanya sudah terlanjur.” Ayahku berbicara dengan nada pasrah, “kita juga
tidak mengira kalu jadinya akan seperti ini.”
“Lalu bagaimana
proses hukumnya, Yah?”
“Ibu tenang
saja. Semua sudah diserakan pada polisi.”
”Ah, enak saja
sekarang dia bilang malah rela dipenjara. Masalah hukum itu belakangan,
sekarang seharusnya dia mengembalikan uang kita dulu.” Terdengar jelas ucapan
kakakku menunjukkan kekesalannya pada Pak Amir.
Beberapa menit
saat aku keluar kamar, mereka sudah membubarkan diri. Ibuku melanjutkan
tugasnya sebagai ibu RT alias ibu rumah tangga. Ayahku bersiap-siap berangkat
mengajar. Beliau adalah guru sebuah Sekolah Dasar. Dan kakakku sudah pergi
menjalankan bisnisnya sebagai seller Gas 3 kilogram domestic. Tinggal
aku yang tidak mempunyai aktivitas. Kulihat koran harian tergeletak di ruang
tengah, didepan televisi. Segera kuambil dan kubaca. Lagi-lagi berisi berita
tentang korupsi di Indonesia. Dan salah satunya adalah kasus korupsi pihak bank
tempat dimana ayahku menabung. Apa? Yang benar saja “Dana Rp 80 Juta Diganti Rp
40 Ribu”. Sungguh pimpinan bank sinting. Hatiku kesal sekaligus ingin
tertawa membaca judul berita di Koran ini, rasanya kok menyepelekan sekali Pak
Amir itu.
Kasus korupsi di
Indonesia memanglah sudah berada pada titik puncak yang sangat sulit diatasi.
Dan mungkin saja kasus-kasus korupsi yang terungkap hingga detik ini masih
setengahnya atau seperempat dari kseluruhan kasus yang terjadi. Mau sedikit mau
banyak yang namanya mengambil uang yang bukan haknya itu namanya korupsi. Kalau
sudah seperti ini lantas siapa yang harus di salahkan? Pemerintah pun tak
kunjung menyelesaikan dengan tanggap dan cepat. Jujur, meskipun aku tidak
begitu tahu masalah politik, tapi menurutku pemerintahan kali ini sangat
mengecewakan. Yasudahlah, kenapa jadi aku yang pusing memikirkan Negara ini?
Aneh sekali.
“Kimi..” ibu
memanggilku dari dapur, sepertinya ia sedang kerepotan.
“Iya bu?” segera
aku berlari kecil ke dapur, “ada apa bu?”
“Bisa bantu ibu
memasak?” ibu menunjukkan seikat sayuran yang harus kupotong-potong. “Kimi
sedang tidak sibuk kan?”
“Oh tentu saja,
Bu.”
“Terimaksiih,
sayang.” Senyum kecil tersungging di sudut bibir ibuku. Senangnya melihat ibu
bisa tersenyum tulus seperti ini. Meskipun dalam keadaan yang tidak diinginkan.
Aku juga menjadi lebih bersemangat pagi ini.
“Oh iya, Bu, ibu
sudah membaca Koran pagi ini?”
“Iya, sudah.
Kenapa?”
“Lucu ya bu,
masa uang delapan puluh juta diganti dengan uang empat puluh ribu. Hahaha..”
aku tertawa kecil, mengingat berita hari ini. Ibu pun ikut tersenyum.
“Itulah Kimi
sikap orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”
“Lalu bagaimana
dengan nasabah yang telah menabung uangnya dengan jumlah banyak sekali ya Bu?
Kasihan sekali mereka.”
“Itu makanya,
meskipun berada dalam kondisi seperti ini, Kimi harus selalu bersyukur dengan
apapun yang terjadi. Karena rasa syukur itu akan membuat smua yang susah
menjadi mudah. Masih banyak di luar sana yang mendapat cobaan lebih berat dari
kita.”
“Iya ibu, Kimi
pasti bersyukur.” Kusemaikan senyumku dihadapan ibu, dan ibu mengangkat
jempolnya ke arahku. Apakah itu tadi tanda pertanda kalau ibu bangga padaku?
Aha, mungkin saja.
Itulah ibuku.
Selalu mengajarkan untuk senantiasa bersyukur dalam kondisi apapun. Ibuku yang
selalu memberikan kekuatan agar aku tetap bisa bersabar dalam menghadapi
cobaan-cobaan hidup. Betapa bersyukurnya aku, meskipun dalam kondisi ekonomi
yang sedang di bawah ini aku masih memiliki keluarga yang menyayangiku.
Keluarga memanglah sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa ditukar dengan
apapun. Di sinilah aku dibesarkan. Di sinilah aku diajarkan untuk selalu
menghargai orang lain, bersikap jujur, tidak mudah menyerah. Dan di sinilah aku
diajarkan arti dari kerja keras serta menghargai hidup. Tidak seperti koruptor
yang sombong dan gila harta. Aku maklumi saja lah, mungkin mereka memang orang
yang tidak mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Sekali pencuri, teap saja
pencuri dan sekali koruptor tetap saja koruptor. Memprihatinkan sekali. Semoga
mereka mendpatkan pelajaran dari apa yang telah mereka perbuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar