Halaman

Sabtu, 31 Maret 2012

Tikus Berdasi


Aku sempat berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil. TIDAK. Ternyata aku salah. Smua sudah menjadi takdirku dan keluargaku. Nasib kami memang sedang terpuruk atau sedang tidak beruntung. Semuanya gara-gara manusia-manusia serakah itu.       
HARTA. Ini memang hanya sebuah kata,
tapi begitu banyak masalah yang ditimbulkan olehnya. Berbicara masalah harta, ini adalah kisah nasib keluargaku yang sebenarnya. Indonesia benar-benar hancur, karena manusia-manusianya yang buta. Buta karena harta. Korupsi di mana-mana. Benar-benar memprihatinkan. Aku bahkan bisa meneteskan air mata karena menjadi bagian dari masalah-masalah ini. Ya, kami ini korban kepicikan orang-orang  rakus itu.
Niatnya kami hanya ingin menabung di sebuah bank. Tabungan ini kami mulai dari nol. Bertahun-tahun kami menaruh kepercayaan pada bank itu. Sedikit demi sedikit, receh demi receh kami kumpulkan. Kami memiliki rencana yang besar dengan uang itu. Begitu banyak harapan-harapan yang kami inginkan dari uang itu. Setiap penghasilan yang didapat ayahku selalu disisakan untuk ditabung. Inilah sosok ayahku yang mengajarkan pada keluarganya untuk selalu menabung seberapapun besarnya entah sedikit atau banyak. Ayahku sangat bekerja keras untuk menafkahi keluargaku.
Dan hingga saat ini aku menjadi calon mahasiswi. Tentu saja aku membutuhkan uang yang cukup banyak untuk mendaftar di Perguruan Tinggi. Untung saja sejak awal aku sudah menabung untuk persiapan kuliahku. Hari ini adalah hari dimana aku harus menunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku bisa membahagiakan mereka. Aku mengikuti ujian SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Belajar dan berdo’a telah kulakukan semampuku. Dua hari aku mengikuti ujian SNMPTN. Lega sekali rasanya. Tinggal menunggu pengumuman, semoga semuanya sesuai harapan.
Sepulang dari ujian aku merasa senang. Aku ingin segera pulang dan beristirahat. Dan setibanya di rumah ibu memanggilku. Sepertinya ingin membicarakan hal yang penting. Terus terang aku sedikit ketakutan dan cemas. Aku duduk di ruang tengah. Sembari membereskan ruangan itu ibuku tersenyum tenang  dan mulai mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
“Kimi sudah tahu?”
“Tahu apa bu?” Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud ucapan ibuku itu. Aku mencoba tetap bersikap biasa saja, dan memandang dalam-dalam wajah ibuku.
“Uang tabungan kita hilang.”  Airmata kesedihan yang selama ini belum pernah kulihat dari wajah ibuku tiba-tiba menetes dan membasahi pipinya, “semuanya”.
“Apa maksud ibu? Bagaimana bisa? Bukankah kita menyimpannya di bank?” Aku masih bingung mendengar ucapan ibuku. Hatiku mulai berdebar-debar seakan itu adalah pertanda yang buruk. Ibuku pun terlihat lemas saat ini. Diambilnya nafas dalam-dalam dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa? Jadi uang kita dikorupsi bu? Astaghfirullah.” Aku terkulai lemas di depan ibuku, “Kenapa tidak meminta ganti rugi saja? Lalu bagaimana kuliahku bu?” Aku tak kuasa menahan tangis, sedikit demi sedikit air mataku mulai menampak dan membanjiri kulit di pipiku.
“Sudah tidak bisa lagi, sayang. Polisi sudah memprosesnya dan saat ini orang yang mengkorupsi tidak memiliki apa-apa lagi untuk menukar semua uang yang dikorupsinya.”
“Apa itu artinya semua uang kita hilang dan tidak mungkin kembali lagi bu?” Kulihat ibuku juga terlihat sangat kecewa dengan ini semua. Segera ibu memeluku untuk menenangkanku.
“Tidak papa, Kimi yang sabar ya. Kita serahkan semua pada Allah. Ini adalah ujian bagi kita. Kalaupun uang itu masih menjadi rizki kita, pasti Allah akan menukarnya.” Kurasakan belaian kasih sayang dari ibuku. Aku tahu ibu menunjukkan ketegarannya. Tapi aku juga tahu, pasti ibu merasa sangat sedih. Bahkan aku baru pertama kali melihat ibu menangis. Ibuku adalah orang yang sangat sabar. Dia tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depanku dan anggota keluargaku yang lain. Namun kali ini hatiku sangat sakit sekali melihat ibu menangis sedih.
“Lalu Bu, bagaimana dengan kuliahku?”
“Kimi tidak usah memikirkan hal itu. Ayah pasti berusaha agar Kimi tetap bisa berkuliah. Do’a kan ayahmu ya. Pasti ada jalan keluarnya. Ingat, Kimi tidak boleh patah semangat. Tidak usah memikirkan hal ini, biar ayah dan ibu yang menangani.”
Aku tak tahu perasaan apa ini. Aku sedih, kecewa, bingung, dan rasanya seperti mimpi. Pantas saja akhir-akhir ini ayah, ibu, dan kakakku terlihat seperti sibuk mengurus sesuatu dan terlihat sedikit depresi. Jadi karena ini masalahnya. Dan mengapa baru hari ini ibu memberitahuku tentang masalah ini. Aku mendapat kejutan menyedihkan setelah ujian siang tadi. Dan muncullah rasa geram dan marah dalam hatiku. Aku mulai merasa dendam pada si pencuri uang itu.
                Tidakkah cukup bagi mereka memiliki penghasilan yang tak sedikit? Bahkan untuk kami itu adalah harta yang benar-benar melimpah. Namun mengapa? Mereka masih belum puas dengan apa yang mereka dapatkan. Apakah mereka itu benar-benar kekurangan ataukah rakus? Aku pikir dua-duanya.
                Penghasilan mereka besar, harta mereka melimpah, hidup serba berkecukupan, rumah yang mewah. Dengan sekali tunjuk saja apapun yang mereka inginkan segera datang di depan mata. Betapa itu impian semua orang bukan? Namun sayang sekali, mereka tidak pernah bersyukur. Mereka takabur. Sekilas pandangan mata mereka memang terlihat kaya.  Namun ternyata mereka adalah orang yang paling miskin di dunia. Mereka miskin hati dan perasaan. Ya, mereka memang KORUPTOR.
                Apa? Berwibawa? Berwibawa darimana? Akhlak saja tidak punya. Darimana mereka bisa mendapatkan kewibawaan-kewibawaan itu? Apa karena mereka mengenakan pakaian necis, dengan jas, berkalung dasi, sepatu mengkilat, dan seakan-akan mereka adalah orang-orang yang harus dihormati. SALAH BESAR. Mereka bukanlah orang terhormat, melainkan manusia picik yang dipandang saja tidak pantas. Mereka berlagak dermawan, padahal uang derma mereka adalah uang orang lain. Bisa saja mereka membanggakan hal itu. Tapi mereka sesungguhnya sangat tersiksa dengan sikap-sikap mereka sendiri. Kasihan sekali.
                Dan malam ini pun rasanya dingin sekali. Suasana juga menjadi tidak bersahabat. Malang sekali nasibku dan keluargaku. Hatiku seperti tercabik-cabik. Tak ada seorangpun yang tahu masalahku ini. Tidak sahabatku, teman-temanku, dan lainnya. Aku ingin bercerita, tapi tidak tahu kepada siapa. Aku sepertinya belum siap menerima kenyataan ini. Apakah hidupku juga akan berubah? Semua uang lenyap dalam sekejab.
Sebuah pesan tiba-tiba muncul di telephone genggamku. Seseorang bernama Reza menyapaku lewat pesan itu. Kebetulan sekali, disaat aku bingung dan ingin mencurahkan isi hatiku. Mungkin aku bisa menceritakan semuanya pada Reza. Dia memang orang yang sangat baik, ramah dan pendengar yang baik. Saat aku sedih, senang, dia yang mendengarkan cerita-ceritaku itu. Sahabat-sahabatku sendiri tidak bisa selalu seperti itu. Bahkan Reza bersedia menelponku hanya untuk mendengarkan keluhanku. Jujur aku merasa tidak enak sekali padanya.
“Hallo, Kimi.” Dari balik ponsel suara Reza terdengar begitu ramah dan menyenangkan.
“Oh, hai Reza.” Dengan nada sedikit turun dari biasanya aku menjawab sapaannya. “Aku boleh menceritakan sesuatu?”
“Tentu saja, Kimi boleh cerita apa saja.”
“Terimakasih, ini mengenai kuliahku. Reza tahu tidak?”
“Tidak tahu dong, Kimi kan belum cerita.” Dengan senyum khasnya yang terdengar begitu ramah dia menjawab,”ada apa dengan kuliah Kimi?”
“Begini…..” Kuceritakan semuanya yang terjadi padaku dan keluargaku. Sungguh aku meneteskan air mata lagi. Mungkin Reza tidak tahu kalau aku sedang menangis. Dan semoga saja dia memang tidak tahu. Seusai mendengar ceritaku yang panjang lebar Reza berusaha menghiburku.
“Kimi harus sabar ya. Ini ujian untuk Kimi dan keluarga. Percaya, setiap masalah itu pasti ada jalan keluarnya.”
“Iya Reza, tapi aku benar-benar tidak  bisa membayangkan smuanya. Coba bayangkan saja. Tabungan kakakku, tabungan orangtuaku, bahkan tabunganku untuk kuliah hilang begitu saja. Rasanya sia-sia selama ini kami menabung.”
“Mau bagaimana lagi. Sekarang Kimi lebih baik berdo’a, smuanya pasti ada jalan keluarnya kok. Terus sekarang bagaimana dengan koruptornya?”
“Polisi sedang memproses. Smoga dia menadapatkan balasan yang setimpal.”
“Oke, Kimi harus tetap semangat kalu begitu. Jangan terlalu memikirka hal itu.” Selalu Reza lah orang yang menyemangatiku, “Aku yakin orangtua Kimi juga sedang berusaha mengatasi masalah ini. Ayo Senyum!!” Mendengar ucapannya aku langsung tersenyum. Fiuh, setidaknya aku sedikit lega sudah menceritakan semua yang mengganggu pikiranku pada hari ini.
“Bagaimana ujian SNMPTN Kimi? Sukses kan?” tiba-tiba saja kami beralih topik. Mungkin ini akan mengurangi pikiran-pikirnku pada msalahku.
“Lumayan. Tapi Za, aku pesimis sekali. Soalnya benar-benar sulit. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.”
“Loh kok pesimis? Semangat dong, yang penting Kimi sudah berusaha. Kimi harus tunjukkan kemampuan Kimi pada orangtua Kimi loh.”
“Hehe, Iya Reza, ini sudah semangat kok.” Aku mencoba meriangkan diriku sendiri, meyakinkan kalau aku baik-baik saja. Dan kenyataannya senyumku tadi itu adalah sebuah keterpaksaan. Tapi syukurlah Reza percaya, dan dia membalas senyumku dengan senyum kecilnya. Obrolan kami pun berujung pada canda tawa. Tidak terasa banyak waktu yang kami habiskan untuk berbincang-bincang. Meskipun tidak secara langsung, tapi aku senang sudah berbagi cerita dengan Reza. Dan karenanya aku benar-benar fresh kembali, seakan-akan masalahku hilang semuanya. Dia membuatku tersenyum lepas hingga obrolan kami usai. J
****
Keesokkan harinya dari balik pintu kamar aku tidak sengaja mendengar obrolan ayah, ibu, dan kakakku. Seperti biasa kakakku selalu berbicara dengan nada-nada tinggi. Dia memang tipe orang yang keras dan tegas. Namun di balik itu semua dia adalah seseorang yang ringan tangan, penyayang dan setia kawan. Banyak orang yang selalu meminta bantuannya ketika mereka dihadapkan pada masalah-masalah baik yang terbilang sederhana maupun rumit. Dan tanpa pikir-pikir lagi kakakku pasti membantu mereka. Bukan karena imbalan atau apapun itu, melainkan karena kakakku memang peduli dengan orang lain.
“Yah, uang kita positif tidak akan kembali lagi. Benar-benar sudah rumit masalahnya. Pak Amir sudah menyerahkan diri pada polisi dan tidak mungkin bisa menukar uang-uang para nasabah.” Pak Amir adalah seorang pimpinan bank sekaligus si koruptor itu. Tak ada yang menyangka kalau dia adalah seorang koruptor. Penampilannya selalu terlihat religious. Dia pandai berbicara dan sok baik. Benar-benar manusia munafik.
“Mau bagaimana lagi. Smuanya sudah terlanjur.” Ayahku berbicara dengan nada pasrah, “kita juga tidak mengira kalu jadinya akan seperti ini.”
“Lalu bagaimana proses hukumnya, Yah?”
“Ibu tenang saja. Semua sudah diserakan pada polisi.”
”Ah, enak saja sekarang dia bilang malah rela dipenjara. Masalah hukum itu belakangan, sekarang seharusnya dia mengembalikan uang kita dulu.” Terdengar jelas ucapan kakakku menunjukkan kekesalannya pada Pak Amir.
Beberapa menit saat aku keluar kamar, mereka sudah membubarkan diri. Ibuku melanjutkan tugasnya sebagai ibu RT alias ibu rumah tangga. Ayahku bersiap-siap berangkat mengajar. Beliau adalah guru sebuah Sekolah Dasar. Dan kakakku sudah pergi menjalankan bisnisnya sebagai seller Gas 3 kilogram domestic. Tinggal aku yang tidak mempunyai aktivitas. Kulihat koran harian tergeletak di ruang tengah, didepan televisi. Segera kuambil dan kubaca. Lagi-lagi berisi berita tentang korupsi di Indonesia. Dan salah satunya adalah kasus korupsi pihak bank tempat dimana ayahku menabung. Apa? Yang benar saja “Dana Rp 80 Juta Diganti Rp 40 Ribu”. Sungguh pimpinan bank sinting. Hatiku kesal sekaligus ingin tertawa membaca judul berita di Koran ini, rasanya kok menyepelekan sekali Pak Amir itu.
Kasus korupsi di Indonesia memanglah sudah berada pada titik puncak yang sangat sulit diatasi. Dan mungkin saja kasus-kasus korupsi yang terungkap hingga detik ini masih setengahnya atau seperempat dari kseluruhan kasus yang terjadi. Mau sedikit mau banyak yang namanya mengambil uang yang bukan haknya itu namanya korupsi. Kalau sudah seperti ini lantas siapa yang harus di salahkan? Pemerintah pun tak kunjung menyelesaikan dengan tanggap dan cepat. Jujur, meskipun aku tidak begitu tahu masalah politik, tapi menurutku pemerintahan kali ini sangat mengecewakan. Yasudahlah, kenapa jadi aku yang pusing memikirkan Negara ini? Aneh sekali.
“Kimi..” ibu memanggilku dari dapur, sepertinya ia sedang kerepotan.
“Iya bu?” segera aku berlari kecil ke dapur, “ada apa bu?”
“Bisa bantu ibu memasak?” ibu menunjukkan seikat sayuran yang harus kupotong-potong. “Kimi sedang tidak sibuk kan?”
“Oh tentu saja, Bu.”
“Terimaksiih, sayang.” Senyum kecil tersungging di sudut bibir ibuku. Senangnya melihat ibu bisa tersenyum tulus seperti ini. Meskipun dalam keadaan yang tidak diinginkan. Aku juga menjadi lebih bersemangat pagi ini.
“Oh iya, Bu, ibu sudah membaca Koran pagi ini?”
“Iya, sudah. Kenapa?”
“Lucu ya bu, masa uang delapan puluh juta diganti dengan uang empat puluh ribu. Hahaha..” aku tertawa kecil, mengingat berita hari ini. Ibu pun ikut tersenyum.
“Itulah Kimi sikap orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”
“Lalu bagaimana dengan nasabah yang telah menabung uangnya dengan jumlah banyak sekali ya Bu? Kasihan sekali mereka.”
“Itu makanya, meskipun berada dalam kondisi seperti ini, Kimi harus selalu bersyukur dengan apapun yang terjadi. Karena rasa syukur itu akan membuat smua yang susah menjadi mudah. Masih banyak di luar sana yang mendapat cobaan lebih berat dari kita.”
“Iya ibu, Kimi pasti bersyukur.” Kusemaikan senyumku dihadapan ibu, dan ibu mengangkat jempolnya ke arahku. Apakah itu tadi tanda pertanda kalau ibu bangga padaku? Aha, mungkin saja.
Itulah ibuku. Selalu mengajarkan untuk senantiasa bersyukur dalam kondisi apapun. Ibuku yang selalu memberikan kekuatan agar aku tetap bisa bersabar dalam menghadapi cobaan-cobaan hidup. Betapa bersyukurnya aku, meskipun dalam kondisi ekonomi yang sedang di bawah ini aku masih memiliki keluarga yang menyayangiku. Keluarga memanglah sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Di sinilah aku dibesarkan. Di sinilah aku diajarkan untuk selalu menghargai orang lain, bersikap jujur, tidak mudah menyerah. Dan di sinilah aku diajarkan arti dari kerja keras serta menghargai hidup. Tidak seperti koruptor yang sombong dan gila harta. Aku maklumi saja lah, mungkin mereka memang orang yang tidak mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Sekali pencuri, teap saja pencuri dan sekali koruptor tetap saja koruptor. Memprihatinkan sekali. Semoga mereka mendpatkan pelajaran dari apa yang telah mereka perbuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar